;
DR Coffee
Tampilkan postingan dengan label Tempat Wisata Kota Tuban JATIM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tempat Wisata Kota Tuban JATIM. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Mei 2012

Wisata Perkebunan Belimbing Tasikmadu Tuban


Bagi anda pecinta buah segar, Wisata Belimbing Tasikmadu pantas menjadi pilihan anda. Dengan luas lebih dari 10 H, anda bisa merasakan nikmatnya memetik buah belimbing di kebun yang luas dan hijau. Memandang hamparan kebun belimbing yang luas dipenuhi buah yang lebat berwarna orange dapat menjadi refressing tersendiri bagi tubuh anda yang lelah setelah beraktifitas sehari-hari.

Tidak hanya itu di tempat wisata belimbing tasikmadu, anda tidak hanya bisa merasakan kenikmatan memetik buah belimbing. Tetapi anda juga bisa langsung memakan buah yang anda petik tersebut langsung dari pohonnya.

Dan jika anda tidak puas hanya dengan memakan di kebun blimbingnya, anda juga bisa memetik sepuasnya dan membawa pulang. Yang ini anda tentu harus membayarnya sesuai dengan harga belimbing per kilo yang telah ditetapkan, oleh sang pengelola kebun.
Jenis belimbing yang ada di hamparan kebun wisata belimbing tasikmadu adalah jenis belimbing madu yang terkenal dengan warnanya yang orange, rasanya yang manis, ukuran buahnya yang besar, tekstur buahnya yang lembut dan berserat halus, ditambah dengan kandungan airnya yang banyak. Dapat memyegarkan tubuh anda yang lelah setelah mengelilingi lokasi kebun yang luas.

Namun ada yang perlu anda perhatikan sebelum datang ke lokasi wisata ini. Anda harus memastikan apakah buah belimbing yang anda idamkan masih tersedia. Jangan sampai jauh-jauh anda datang tetapi mendapati bahwa buah tersebut telah habis di order orang. Karena kelezatannya yang mennggugah selera akhir-akhir ini buah belimbing madu ini selalu habis dipesan oleh penggemar sebelum masak untuk hantaran keluarga baik dalam kota Tuban maupun luar kota.
Meskipun begitu bagi anda yang tidak mendapatkan jatah buah belimbing dan tetap ingin mengunjungi hamparan buah belimbing yang menakjubkan anda tidak perlu kecewa. Karena selain belimbing anda bisa menikmati Legen atau air buah siwalan yang tidak kalah nikmatnya fress  langsung dari pohonnya . Pohon-pohon siwalan ini tumbuh secara unik disela-sela pohon  belimbing.

Semoga Tips ini bermanfaat ..
Jika berkenan mohon tinggalkan komentar anda.

sumber: hotel mustika

Rabu, 24 Agustus 2011

TUBAN Kota seribu Goa

Bagi anda para petualang sejati wajib rasanya bagi anda untuk mengunjungi daerah-daerah kecil di ujung barat propinsi Jawa Timur ini.

Goa Akbar

Ya, Tuban Daerah seribu goa mulai Goa Akbar yang terletak di pusat keramaian kota yakni di bawah pasar  rakyat atau pasar induk (biasa disebut oleh rakyat Tuban sebagai pasar Baru). Goa akbar mempunyai berjuta pesona wisata bawah tanah  dengan suasana hening diselingi gemercik air yang sangat kontras dengan keramaian di atasnya (pasar). Didalam gua ini juga dibangun sebuah kolam air tawar yang dipenuhi dengan ikan mas sehingga otomatis memberikan nilai tambah tersendiri bagi pengunjung saat mengunjungi objek wisata ini.
Goa Putri Asih
Goa Putri Asih

Goa lain yang tidak kalah menariknya dengan goa akbar adalah Goa Putri asih yang  terletak di daerah montong kabupaten tuban. Goa ini sangat indah sekali dan terletak ditengah hutan jati yang masih alami. Bila anda berkunjung ke kota Tuban maka jangan sampai lupa untuk menginjakan kaki di goa ini, karena jika tidak bisa menyesal nanti. Goa ini menyuguhkan panorama alami berupa goa dengan indahnya stalagtit dan stalagmit yang bermunculan dan bebgelantung di dinding goa. Ada sebuah stalagtit dan stalagmit yang sangat besar yang menyerupai dengan selendang putri mungkin karena itu goa ini di sebut Goa putri asih.

Goa Ngerong
Goa Ngerong

Goa Ngerong, berbeda dengan goa akbar dan goa putri asih. Goa Ngerong ini merupakan rumah dari beribu-ribu kelelawar yang bergelantung di mulut goa membentuk stalagtit hitam di dinding goa. Namun jangan coba-coba mendekat ke dalam mulut goa jika tidak kuat dengan bau khas kotoran kelelawar. Goa Ngerong yang terletak di Kecamatan Rengel Tuban. Juga menjadi tempat bagi ribuah ikan yang dapat dilihat pleh pengunjung karena di goa ini terdapat aliran sungai sangat jernih yang mengalir keluar. Dipenuhi ikan yang bisa dilihat langsung hanya dengan memberikan biji kapuk randu ke dalam sungai agar ikan-ikan tersebut mengapung untuk berebut makanan.

Daerah ini di juluki sebagai daerah seribu goa, karena struktur tanahnya yang sebagian besar (80 %) adalah batuan kapur. Batuan berkapur bersifat sangat kapilaristik sehingga mudah menyerap dan melepaskan air. Goa-goa ini terbetuka akibat terjadinya peristiwa karst (pelarutan batuan kapur akibat aktifitas air) sehingga tercipta lorong-lorong dan bentukan batuan yang sangat menarik akibat proses kristalisasi dan pelarutan gamping. Diperkirakan wilayah sebaran karst Indonesia adalah yang terbesar di dunia.
Sebagaimana julukan Tuban sebagai Daerah Seribu Goa masih banyak goa-goa lainnya seperti Goa Gili Suci, Goa Terus, Goa Jaran, Goa Gembul, Goa Angin, Goa Maharani, namun demikian Tak hanya wisata goa yang dapat dinikmati di Tuban dan sekitarnya.

Tuban  yang konon merupakan salah satu pintu masuk menuju Kerajaan Majapahit itu juga kaya akan peninggalan zaman lampau yang kini menjadi daerah tujuan wisata. Antara lain terdapat makam Sunan Bonang, Museum Kambang Putih, dan Klenteng Kwan Sing Bio klenteng terbesar di Asia Tenggara dan satu-satunya klenteng yang menggunakan kepiting sebagai simbol pada pintu gerbangnya, yang menjadi tempat wisata  religius. Juga terdapat pemandian alam Bektiharjo dan pemandian air hangat Prataan. Selain itu juga terdapat wisata air terjun dan pantai yang sangat menarik untuk di kunjungi.

Belum lagi wisata kulinernya yang tak akan anda jumpai di kota lain. Masakan khas daerah pesisir dengan aneka olahan Sea Food yang luar biasa pedas. Anda juga tidak perlu kesulitan jika butuh tempat menginap yang terjangkau dan menyediakan informasi penuh tentang Tuban dan segala pernak pernik khas kota Tuban. Mulai dari makanan sampai hasil kerajinan dll ada semua di sana

Kwan Sing Bio Klenteng Terunik dan Terbesar Di Asia Tenggara

Megah dan kaya keunikan, kesan ini jelas tergambar di klenteng Kwan Sing Bio, yang berdiri gagah di pesisir pantai utara Tuban. Selain luas bangunan yang luar biasa, ikon yang digunakan sebagai penghias gapura juga berbeda dari bangunan klenteng pada umumnya.

Kelenteng yang didirikan pada tahun 1928 ini, konon kelenteng ini adalah peniggalan dari para pedagang etnis tionghoa berabad-abad yang lalu yang menyebarkan agama lewat perdagangan.

Klenteng Kwan Sing Bio terletak di sebelah barat kota Tuban. Tempat ibadah umat Tri Dharma yang dikenal dengan sebutan Klenteng Kepiting itu menjadi salah satu trade mark. Menurut cerita, pada awalnya tanah yang digunakan sebagai lokasi bangunan klenteng adalah rawa-rawa yang penuh kepiting.

Tanaman liar yang ada dirawa-rawa tersebut kemudian dibabat dan tanahnya diratakan. Tumpukan kayu hasil babatan itu yang ditata menjadi klenteng. Kepiting liar yang merupakan mahkluk hidup asli wilayah itu dijadikan simbol ciri khas Klenteng Tri Dharma Kwan Sing Bio.

Berdiri di atas tanah seluas lebih dari dua hektar, Klenteng Kwan Sing Bio dibagi menjadi beberapa bagian. Di bagian depan terletak sebuah tempat sembahyangan (altar utama), yang juga merupakan bangunan tertua. Di sebelah kiri altar utama berdiri tempat pembelajaran bahasa Mandarin, peramal Jiamsi, kantor secretariat, dan tempat penjualan perlengkapan sembahyang.

Di bagian belakang terdapat dapur dan Hall (gedung serba guna) yang sekaligus menjadi tempat menginap bagi pengunjung, bersebelahan dengan taman berarsitektur Thiongkok, plus danau kecil dan jembatan yang melintas di atasnya yang sekaligus berfungsi sebagai panggung pertunjukan acara saat peringatan ulang tahun klenteng.

Ajaran Tri Dharma mempercayai kepiting sebagai hewan yang dipilih dewa untuk melindungi mereka yang berada di Tuban. Penghormatan kepada mahkluk laut seperti kepiting ditunjukkan dengan tidak menyajikan kepiting sebagai sesembahan kepada dewa umat Konghucu, Tao dan Budha. Keunikan lain menyangkut kepiting, tampak dari bentuk kota Tuban yang mirip dengan bentuk Kepiting dengan dua capit. Capit Pertama letaknya di Klenteng Tjoe Ling Kiong (Dewi Laut) di Alun-Alun Kota, capit kedua di Klenteng Kwan Sing Bio. Di dua klenteng itu, juga terdapat dua mata air tawar. Hal yang unik karena keduanya terletak di wilayah pantai.

Memperkuat sisi releigiusnya, Kwan Sing Bio diperkaya dengan patung-patung yang sangat apik. Patung-patung ini dibangun untuk menghormati nenek moyang dan dewa-dewa masyarakat Tionghoa. Di sisi yang lain, tepatnya di di gedung serba guna, ada relief indah yang berkisah tentang sembilan dewa. Lalu di bagian lain, ada relief tentang legenda-legenda populer Tiong Hoa yang kaya dengan nilai filsafat

Namun, Klenteng ini hanya menyimpan satu patung Dewa Tiongkok, atau yang biasa disebut Kiem Sien, yakni Dewa Yang Mulia Sing Tee Koen, dewa pelindung dan setia. Ini berbeda dengan klenteng lain, yang biasanya memiliki banyak patung Kiem Sien. Patung dewa Sing Tee Koen ini dibawa seorang umat langsung dari tanah Tiongkok.

Dengan segenap atribut yang dimiliki, Kwan Sing Bio diyakini sebagai klenteng terbesar di Asia Tenggara. Selain itu, kleneteng ini juga dipercaya sebagai yang paling unik. satu yang palng berbeda di klenteng ini adalah penggunaan ikon kepiting raksasa di gerbangnya.

Kwan Sing Bio setiap hari, sangat ramai dikunjungi wisatawan baik domestik maupun wisatawan asing. Mereka yang datang ke kelenteng bukan hanya berasal dari kalangan Kong Hu Chu melainkan umat muslim, Kristen, dan lainnya. Tujuan wisatawan juga berbeda-beda, ada yang datang khusus untuk bersembahyang, ada yang kededar ingin melihat-lihat, ada juga yang datang untuk mencari peruntungan dan mohon petunjuk.
Meski belum ada rujukan pasti tentang eksistensi Kwan Sing Bio, namun sumber di klenteng ini meyakini, Kwan Sing Bio merupakan klenteng tertua di Indonesia.

Yah, Kwan Sing Bio mungkin sebagian dari anda sudah tidak asing lagi dengan nama ini. Kelenteng yang terletak pada jalur pantura kabupaten Tuban ini sangatlah cantik dan menarik.
Namun bagi anda yang mungkin baru kali ini mendengar atau membaca tentang klenteng  Kwan Sing Bio dan ingin mengunjungi tempat ini tetapi binggung karena lokasi anda yang jauh.  Anda tidak perlu binggung atau khawatir karena bagi pengunjung yang hendak bermalam kelenteng Kwan sing bio menyediakan tempat bermalam gratis yang mampu menampung ribuan pengunjung. Urusan makan juga gampang, kelenteng ini menyajikan makanan gratis setiap harinya.

Atau jika anda menginginkan sajian yang berbeda, Klenteng Kwan Sing Bio bersanding persis dengan sebuah Coffee and Steak House milik Hotel Mustika Tuban yang menyajikan aneka menu kopi, teh,  Steak, cake dan makanan khas lainnya. Disisi lain luar klenteng juga terdapat warung-warung tenda yang menyajikan masakan khas tuban denga harga yang sangat terjangkau.

Ketenaran kelenteng ini tidak perlu dipertanyakan lagi, dengan deretan lampu lampion, arca dewa hingga lilin yang terpasang seolah mampu membuktikannya. Beragam nama dan asal daerah pengunjung dapat kita lacak disitu. Disini anda bisa melihat lilin dengan ukuran sepelukan orang dewasa dengan tinggi menjulang hingga dua meter. Jadi sangatlah tidak sempurna apabila anda melewati kota tuban, tanpa mengunjungi wisata religi yang satu ini.

Khasiat Dan Pesona Air Panas Prataan

Pemandian air hangat yang terletak di desa Parang Batu, kecamatan Parengan, Tuban kurang lebih 45 km dari pusat kota Tuban ini dipercaya sebagai terapi penyembuhan berbagai penyakit. Berada di tengah kawasan hutan milik Perum Perhutani Unit II Jawa Timur, banyak orang menyebutnya sebagai wisata pengobatan, atau dikelompokkan  sebagai wana wisata atau wisata hutan.

Selain panoramanya yang bagus karena berada di tengah hutan jati, pemandian Prataan merupakan salah satu lokasi wisata yang cocok untuk mengajak anak-anak bermain air di area alam terbuka. Sambil menemani anak-anak, para orangtua dapat memanfaatkan air panas langsung dari sumber alam yang bermanfaat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Kolam Air Tawar

Di lokasi pemandian air panas prataan terdapat tiga (3) kolam diantaranya, kolam air tawar (biasa), kolam belerang dan yang terakhir kolam air panas. Kolam air tawar terletak di antara kolam belerang dan kolam air panas, merupakan kolam yang paling luas diantara kedua kolam yang lainnya. Bisa dimaklumi karena pengguna kolam ini untuk umum mulai  anak-anak sampai dewasa lelaki maupun wanita.

Setiap hari, ratusan wisatawan dari berbagai daerah datang ke lokasi pemandian air panas prataan. Ada yang datang untuk sekedar berekreasi, ada yang berkemah dan yang memang ingin berlibur sambil mencari obat dengan berendam di dalam air panas yang mengandung belerang. Tempat ini merupakan favorit terutama bagi mereka yang mengidap beberapa penyakit, misalnya pegal-pegal, linu, peredaran darah tidak lancar, encok, rematik, bahkan kelumpuhan atau stroke.

Salah satu petugas di wana wisata Prataan mengatakan bahwa selama ini banyak wisatawan yang datang setelah mendengar khasiat mandi di Air Panas Prataan. Seperti pengakuan beberapa pengunjung yang sering mandi di kolam air panas Prataan. Mandi di sini sebagai pengobatan alternatif lewat alam, cukup  mandi selama 15  sampai  30 menit, beberapa keluhan penyakitnya hilang, terutama pegal linu dan rematik yang  dideritanya.

Tempat Berendam Untuk Pengobatan

Lokasi pemandian air panas sengaja di buat per kamar untuk menjaga privasi masing-masing pengunjung. Selain itu, juga untuk menjaga kebersihan pemandian. Air panas yang dialirkan ke bak mandi itu langsung dari alam untuk sekali pakai. Jika ada pengunjung lain yang ingin menggunakannya maka bak diisi lagi dan setelah selesai langsung dibuang supaya tetap bersih.

Bagi Anda yang menderita gatal-gatal, gatal akibat  keringat, eksim, jamur kulit dan penyakit kulit lainnya silahkan  mandi di kolam belerang. Kolam belerang ini memiliki keasaman cukup tinggi, dan belerang  dapat membunuh kuman-kuman maupun bakteri tertentu yang menjadi penyebab penyakit kulit. Manfaat lain dari mandi di kolam belerang adalah untuk relaksasi serta menghilangkan keluhan nyeri-nyeri pada tulang.

Pesona Air Terjun Nglirip

Pesona air terjun Nglirip, amat mengagumkan. Wisatawan yang berkunjung ke lokasi wisata air terjun Nglirip, tidak hanya disuguhi indahnya pemandangan. Juga terdapat fasilitas outbound bagi wisatawan yang ingin menguji keberanian dan memacu adrenalin.

Wisata air terjun nglirip terletak di wilayah kecamatan Singgahan, Tuban sekitar 35 km arah barat daya kota Tuban. Berbeda dengan air terjun pada umumnya yang terletak jauh dari jalan raya, air rerjun nglirip sudah bisa terlihat dari pinggir jalan.

Anda bisa mengunjungi lokasi wisata ini baik dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun dengan naik angkutan umum. Dari terminal Tuban Anda bisa naik jurusan Montong, dan diteruskan dengan naik jurusan Jojogan. Air Terjun Nglirip terletak antara Montong dan Jojogan.

Jembatan Di Atas Air 

Terjun Nglirip
Sesampainya disini Anda akan mendapatkan pemandangan yang menawan, dari pinggir jalan saja Anda dapat melihat jatuhnya air dari tebing yang di atasnya terdapat jembatan kecil. Untuk menikmati air terjun ngelirip lebih dekat anda perlu sedikit jalan kaki melewati jalan setapak. Perlu hati-hati saat menyusuri aliran bawah air terjun karena jalanan setapak akan sangat licin, terutama di musim hujan.

Flying Fox di Air Terjun Nglirip

Air Terjun Nglirip tidak begitu tinggi, hanya berkisar 25 meter. Namun keindahan alamnya tidak hanya seputar air terjun. Bagi anda yang suka tantangan dan ingin uji nyali di atas air tenjun terdapat permainan outbound “Flying Fox”. Dibalik air terjun ini terdapat goa-goa cantik yang juga menjadi daerah wisata yang banyak dikunjungi wisatawan domestik terutawa warga Tuban dan sekitarnya. Diantaranya adalah Goa Putri Asih dan Goa Terus.

Ada Mitos unik yang dipercayai tentang goa yang terdapat di Air Terjun Nglirip ini. Yakni selain sebagai tempat semedinya para leluhur yang berilmu tinggi juga terdapat roh seorang wanita yang menunggu kekasihnya hingga kini. Pada saat tertentu, penduduk sekitar percaya bahwa wanita ini akan keluar berbelanja.

Di sisi lain, anda juga bisa melihat peninggalan kuno mulai dari batu hingga bangunan yang masih kokoh. Hanya beberapa bangunan yang mengalami perubahan itupun karena retak dan menghawatirkan bila tidak diubah. Jembatan yang dulunya dari kayu, sekarang diganti dengan besi dan diberi tembok kokoh, untuk menahan air saat banjir.

Wisatawan yang berkunjung ke air terjun Nglirip sebaiknya membawa bekal  supaya tidak anda tidak kebingunangan saat lapar. Sebab, meski banyak warung-warung kecil, namun mereka kebanyakan hanya menjual mie rebus atau mie goreng instan. Tentu untuk lebih sehat sebaiknya anda membawa bekal sebelum datang ke Nglirip.


Primadona Wisata Pemandian Bektiharjo

Salah satu obyek wisata alam di Tuban yang selalu ramai dikunjungi adalah Pemandian Bektiharjo di desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding. Terletak sekitar 5 km dari Kota Tuban.

Pemandian Bektiharjo mempunyai sumber mata air yang sangat jernih sebagai sumber air minum  juga sebagai lokasi pemandian dan arena berenang. Di sini ada  2 sendang  (kolam) pemandian. Sendang Lanang (pemandian laki-laki) di bagian utara dan Sedang Wadon (pemandian perempuan) di sisi selatan.

Sendang Wadon Bektiharjo

Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, Sendang wadon sekarang  berubah fungsi menjadi kolam renang dengan standar nasional, pengunjung  bebas menggunakan kolam renang ini. Sementara  sendang lanang, kini menjadi tempat mandi yang sangat sejuk. Bagi pengunjung anak-anak juga terdapat kolam untuk anak yang agak dangkal. Penggantian air kolam dilakukan secara rutin dengan memompa sumber mata air yang ada tepat di sebelah kolam renang.

Pemandian Bektiharjo dikelilingi oleh pohon-pohon yang sangat rindang. Wajar kalau suasana di tempat ini menjadi sangat teduh dan sejuk. Hal lain yang sangat berbeda dari kolam renang kebanyakan adalah adanya komunitas kera jinak di sekitar lokasi pemandian, seperti wisata Sangeh di Bali.
Kera-kera ini tidak mengganggu, kecuali bagi pengunjung yang membawa anak, terutama anak-anak yang sedang membawa makanan agar dijaga dengan baik. Karena sering kali kera-kera yang kelihatan sangat pendiam dapat bergerak dengan sangat cepat untuk mengambil kue/makanan kecil yang di pegang oleh anak-anak.

Obyek wisata pemandian bektiharjo sampai saat ini masih tetap menjadi tujuan wisata utama bagi wisatawan yang berkunjung ke Tuban. Pemandian Bektiharjo hampir tidak pernah sepi. Tempat wisata yang hanya seluas 1,5 hektar merupakan tempat wisata tertua di Tuban.
Untuk menjaga kelestarian kera-kera di lokasi wisata Bektiharjo, saat ini ditetapkan aturan dilarang mengganggu apalagi menyakiti atau membunuh kera yang ada di lokasi wisata itu.

Karena selain menjadi maskot tempat wisata itu, kera-kera tersebut diyakini telah ada sejak tempat itu dijadikan obyek wisata, tahun 1960-an lalu. Menjadi Pelindung Sumber Air Bawah Tanah.  Air Pemandian Bektiharjo yang jernih segar dan tidak pernah kering sepanjang musim tentu tidak hanya menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Adanya obyek wisata di lokasi sumber air seperti Bektiharjo bisa menjadi pelindung keberadaan sumber air tersebut. Bektiharjo adalah salah satu dari ratusan sumber air bawah tanah yang ada di Tuban yang menjadi penopang kehidupan masyarakat. Tidak sebatas masyarakat di sekitar lokasi Bektiharjo, bahkan warga kota Tuban pun sangat bergantung pada air Bektiharjo.
Di pemandian Bektiharjo, setiap pengunjung hanya dikenakan tiket masuk kira2 sebesar Rp 7.000 per orang. Sementara, bagi orangtua yang ingin menyewa ban, pengganti pelampung cukup mengeluarkan uang kira2 Rp 3.000.

Saat ini angkutan umum yang ada di lokasi wisata hanyalah dokar (andong) dan pick up (colt) itupun tidak bisa dipastikan keberadaannya karena disana tidak ada terminalnya. Sebaiknya anda menggunakan jasa travel atau dengan kendaraan pribadi, perjalanan dengan motor or mobil hanya sekitar 15 menit dari pusat kota Tuban.


Pondok Langitan Widang Tuban

Pondok Pesantren Langitan, salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Berdiri pada tahun 1852 M di Dusun Mandungan Desa Widang Kecamatan Widang Kabupaten Tuban Jawa Timur. Terletak di samping Bengawan Solo di atas areal tanah seluas kurang lebih 7 hektar. Lokasi yang setrategis menjadikan Pondok Pesantren Langitan mudah untuk dijangkau melalui sarana angkutan umum, baik sarana transportasi bus, kereta api, atau sarana yang lain.

Nama Langitan merupakan perubahan dari kata Plangitan, kombinasi dari kata plang dari bahasa jawa yang berarti papan nama dan wetan juga dari bahasa yang berarti timur. Menurut situs resmi pondok dahulu di sekitar daerah Widang, tatkala Pondok Pesantren Langitan ini didirikan pernah berdiri dua buah plang atau papan nama, masing-masing terletak di timur dan barat. Kemudian di dekat plang sebelah wetan dibangunlah sebuah lembaga pendidikan ini, yang kelak karena kebiasaan para pengunjung menjadikan plang wetan sebagai tanda untuk memudahkan orang mengunjungi pondok pesantren, maka secara alamiyah pondok pesantren ini diberi nama “Plangitan” dan selanjutnya populer menjadi Langitan.

Kebenaran kata Plangitan tersebut dikuatkan oleh sebuah cap bertuliskan kata Plangitan dalam huruf Arab dan berbahasa Melayu yang tertera dalam kitab “Fathul Mu’in” yang selesai ditulis tangan oleh KH. Ahmad Sholeh, pada hari Selasa 29 Robiul Akhir 1297 H.

Lokasi Pondokan Putra

Lembaga pendidikan yang sekarang ini dihuni oleh lebih dari 5500 santri yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan sebagian Malaysia ini dahulunya adalah hanya sebuah surau kecil tempat pendiri Pondok Pesantren Langitan, KH. Muhammad Nur mengajarkan ilmunya dan menggembleng keluarga dan tetangga dekat untuk meneruskan perjuangan dalam mengusir penjajah dari tanah Jawa.

Dalam rentang masa satu setengah abad Pondok pesantren Langitan telah menunjukkan kiprah dan peran yang luar biasa, berawal dari hanya sebuah surau kecil Pondok Pesantren Langitan kini telah berkembang menjadi sebuah pondok yang representatif dan populer di mata masyarakat luas baik dalam negeri maupun manca negara. Banyak tokoh-tokoh besar dan pengasuh pondok pesantren yang dididik dan dibesarkan di Pondok Pesantren Langitan ini, seperti KH.Kholil Bangkalan, KH. Hasyim Asy’ary, KH. Syamsul Arifin (ayahanda KH. As’ad Syamsul Arifin) dan lain-lain.

Dengan berpegang teguh pada kaidah “Al-Muhafadhotu Alal Qodimis Sholeh Wal Akhdu Bil Jadidil Ashlah” (memelihara budaya-budaya klasik yang baik dan mengambil budaya-budaya yang baru yang konstruktif), maka Pondok Pesantren Langitan dalam perjalanannya senantiasa melakukan upaya-upaya perbaikan dan kontektualisasi dalam merekonstruksi bangunan-bangunan sosio kultural, khususnya dalam hal pendidikan dan manajemen.

Usaha-usaha ke arah pembaharuan dan modernisasi memang sebuah konsekwensi dari sebuah dunia yang modern. Namun Pondok Pesantren Langitan dalam hal ini mempunyai batasan-batasan yang kongkrit, pembaharuan dan modernisasi tidak boleh merubah atau mereduksi orientasi dan idealisme pesantren.
Dapat dikatakan bahwa pendidikan dan pengajaran adalah merupakan jantung dan sumber kehidupan terhadap kelangsungan dan eksistensi sebuah pesantren.

Pondok Pesantren Langitan selama kurun waktu yang cukup panjang ini telah menerapkan beberapa methode pendidikan dan pengajaran dalam sistem klasikal (madrasiyah) dan non klasikal (ma’hadiyah).
Pada system klasikal orientasi pendidikan dan pengajarannya terumuskan secara teratur dan prosedural, baik meliputi masa, kurikulum, tingkatan dan kegiatan-kegiatannya. Pendidikan non klasikal dalam Pondok Pesantren Langitan ini menggunakan methode wethon atau bandongan dan sorogan. yang dilaksanakan setiap hari (selain hari Selasa dan Jum’at). Adapun waktunya beragam menyesuaikan kegiatan di madrasah. Adapun tingkat pendidikannya mulai dari tingkat MI, MTs dan MA, masing-masing selama 3 tahun.

Pondok Langitan juga memiliki fasilitas atau sarana yang cukup lengkap meliputi:. Tempat tinggal, tempat Ibadah, tempat belajar mengajar, pusat perbelanjaan, kantin, ruang perawatan (UKS), kedung perpustakaan, wartel, gedung pelatihan dan ketrampilan, lapangan olah raga.

Pondok Pesantren Bawah Tanah

Pondok pesantren (Ponpes) Syeh Maulana Mahgrobi sebuah pesantren langka sekaligus satu-satunya di tanah air bahkan mungkin di dunia. Tidak seperti pesantren lainnya yang dibangun bertingkat di atas permukaan tanah. Ponpes Syekh Maulana Mahgrobi, pimpinan KH Subhan Mubaroq letaknya cukup ekstrem, berada pada kedalaman 20 m di dalam tanah.

Ponpes ini berada di Dusun Wire Desa Kedungombo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jatim. Pimpinan Ponpes Syekh Maulana Mahgrobi, punya alasan tersendiri kenapa pesantrennya dibangun di lorong-lorong goa, jauh di bawah permukaan tanah. Salah satu alasan yang mendasari pembangunan pesantren ini yakni bahwa, “semua ayat suci dari kitab-kitab suci di zaman nabi-nabi, diturunkan Allah di bawah tanah atau di dalam goa.”  Merujuk penerimaan wahyu itu Kiai Subhan ingin mengajarkan ilmu keagamaan berada di dalam goa

Nama ponpes ini diambil dari nama seorang wali (orang suci) yang dahulu pernah ada di tanah Jawa. Namun, pesantren ini lebih dikenal dengan sebutan Ponpes Perut Bumi, mewakili letaknya yang berada di dalam tanah. Luas Ponpes sekitar tiga hektar dibawah tanah berupa lorong goa yang khusus dipakai untuk kegiatan mengaji, istighosah, dan kuliah subuh. Sedangkan penginapan para santri dibangun di atasnya, tepatnya di barat mulut goa.

Lorong Masuk Ponpes Perut Bumi

Dahulu tempat itu adalah tempat pembuangan sampah dan sarang ular. Setelah tempat itu dibersihkan, lalu KH Subhan menyulap goa temuannya menjadi ponpes yang unik dan berdaya tarik tinggi. Menurut pengakuan KH Subhan Mubarok, pimpinan ponpes Perut Bumi, setelah menerima bisikan gaib (wahyu) di malam satu Suro tahun 2001, segera ia berupaya membeli tanah yang berada di Kelurahan Kedungombo itu.

Di dalam goa ini terdapat sebuah ruangan besar yang digunakan untuk masjid. Tempat ini diberi nama Goa Putri Ayu, diambil dari nama “penghuni” yang diyakini menjaga gua tersebut. Di dalam goa ini terdapat ruangan yang mampu menampung 600 jamaah. Dan di bagian belakang masjid terdapat lobang pintu dengan sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk ritual semedi yang disebut-sebut sebagai pertapaan asli.

Di balik ruangan ini masih terdapat goa-goa yang lain seperti petilasan Sunan Kalijaga dan Syeh Jangkung, dan bekas pijakan kaki Syeh Maulana Maghrobi. Ketiganya adalah para wali yang diyakini KH Subhan pernah bertapa di goa itu.

Dana pembangunan ponpes ini sebagian besar berasal dari sumbangan para dermawan mulai dari kalangan artis dan pejabat. Dan Sumbangan lainnya ia terima dari kotak amal yang tersedia di goa.
Kendati lokasi pesantren berada di lorong goa, bukan berarti ajaran keagamaan yang diberikan kepada para santri beraroma mistis. Prinsip keberagaman di simbolkan dari beragam batu yang menyusun gua-gua di ponpes Perut Bumi. Di pesantren ini diajarkan untuk menghormati agama-agama selain Islam, “kami ingin meng-islah-kan (merukunkan) umat beragama di Indonesia,” ujar sang kyai.

Tempat ini bukan sebuah goa yang biasa dikeramatkan dengan sesaji layaknya tradisi di Pulau Jawa. Di sinilah tempat para santri digembleng belajar Ilmu agama Islam (Tauhid). Selain untuk mengaji, pada malam Jumat Pon, tepat jam 12 malam di pesantren ini biasa diadakan isthigosah (dzikir dan doa bersama) yang terbuka untuk umum. KH Subhan termasuk kiai yang mengecam tindakan pengeboman di beberapa tempat di Indonesia.

Pesantren dalam goa ini memiliki pesona yang eksotis. Terdapat ragam stalagtit dan stalagmit yang sudah mengering dan menjadi batuan kapur. Selain bangunannya unik, santri-santri yang menuntut ilmu di Ponpes Perut Bumi Al Maghori pada awalnya juga tergolong luar biasa. Penampilan mereka tak seperti para santri ponpes pada umumnya. Di ponpes ini, tubuh sebagian besar santri penuh tato. Mereka adalah, para mantan pecandu narkoba, perampok, pencuri, bajing loncat, pembunuh, dan pemabuk.

Mengenai para santri yang mondok di sana, Kyai Subhan mengaku tidak pernah membedakan atau membatasi orang yang mau mendalami islam. Demikian halnya dengan para warga di Tuban, Kyai Subhan tidak pernah membedakan.

Makam Sunan Bejagung

Sebagai situs makam yang dikeramatkan, makam Sunan Bejagung yang dikelilingi puluhan pepohonan tua berusia ratusan tahun itu oleh masyarakat diyakini menyimpan berkah. Di antaranya dapat mengeluarkan diri dari nasib ruwet (susah), sekaligus sebagai obat mujarab untuk menyembuhkan berbagai luka dan penyakit.

Meski pada awalnya makam ini kurang dikenal sebagaimana makam Sunan Bonang. Namun, situs wisata religi Sunan Bejagung atau Syaikh Abdullah Asy’ari yang konon semasa hidupnya menjadi penyulut pelita dan muadzin di Masjidil Haram ini mulai banyak dikunjungi oleh wisatawan.

Cerita-cerita yang berkembang dimasyarakat mulai menarik para peziarah dan wisatawan untuk menyaksikan langsung lokasi wisata ini. Diantara cerita yang masih menjadi keyakinan masyarakat sekitar yakni bahwa pada masanya hanya Sunan Bejagunglah yang mampu menyulut pelita di Masjidil Haram. Dan, yang menakjubkan, ketika waktu manjing (masuk) shalat isya’ tiba, Sunan Bejagung sudah kembali berada di tengah ratusan santrinya menjadi imam shalat.

Hal menarik lainnya yakni sebuah sumur giling yang digali sendiri oleh Sunan yang terletak di sebelah utara komplek makam. Sumur berbentuk persegi yang dipercaya sebagai salah satu maha karya Sunan Bejagung ini airnya tak pernah kering sepanjang musim bahkan saat musim kemarau terparah sekalipun.  Untuk menaikkan air dari sumur ini, dibuat kumparan besar dari kayu yang diletakkan melintang di atas sumur. Kumparan itu dibuat sedemikian rupa sehingga mudah untuk diputar. Dengan kedalaman 62 meter, bisa dibayangkan betapa sulitnya menaikkan air dengan katrol kecil.

Karena cara pengambilan air yang menggunakan kumparan kayu besar (gilingan).  Seperti pemintal benang yang banyak digunakan para pengrajin batik gedog dari Kecamatan Kerek, Tuban. Maka sumur hasil karya Syeikh Asy’ari tersebut kemudian dinamakan sumur Giling.

Bagi masyarakat Tuban, terutama yang tinggal di wilayah Kecamatan Semanding, Sumur Giling tak ubahnya sumur zam-zam yang ada di Masjidil Haram, Mekkah, Saudi Arabia. Menurut keyakinan masyarakat setempat, air sumur sedalam 62 meter tersebut memiliki berjuta karamah atau kasiat. Keyakinan itulah yang mengundang banyak orang berbondong-bondong datang ke situs makam salah satu penyebar agama Islam di 
Pulau Jawa ini. Kendati tidak masuk dalam daftar anggota Wali Songo, makam Sunan Bejagung tetap disejajarkan dengan para wali lainnya.

Menurut cerita tutur yang berkembang di masyarakat, pembuatan sumur tersebut dilakukan  hanya butuh waktu satu hari satu malam. Banyak orang percaya air Sumur Giling Sunan Bejagung mengandung energi luar biasa. Lantaran berada pada kedalaman 62 meter di bawah tanah diyakini mampu membuat badan lebih sehat.

Terlepas dari semua mitos tersebut, sumur giling tua peninggalan Sunan Bejagung itu menjadi bukti yang masih tersisa dari peradaban masa lalu bangsa Indonesia. Bahwa sejak zaman Majapahit, bangsa ini telah mengenal tehnologi  pengeboran, hal itu tidak bisa terbantahkan dengan bukti-bukti yang masih ada seperti Sumur Giling Sunan Bejagung tersebut.
Satu lagi yang menarik dari situs makam ini adalah Gugusan batu yang bernama Watu Gajah. 

Konon, batu-batu tersebut penjelmaan dari gajah tentara Majapahit yang hendak  membawa pulang paksa Pangeran Kusumohadi yang mengaji kepada Sunan Bejagung
Pangeran Kusumohadi adalah  putra Prabu Hayam Wuruk, salah satu raja Majapahit. Setelah mengetahui  bahwa anaknya mengaji di Padepokan Sunan Bejagung Tuban, maka sang prabu  memerintahkan patihnya Gajah Mada menjemput. Mendengar rencana itu, Pangeran Kusumohadi memohon kepada Sunan Bejagung untuk membantunya menolak kehendak Prabu Hayam Wuruk.

Kehendak pangeran tersebut dikabulkan Sunan Bejagung. Untuk melindungi sang pangeran, Sunan Bejagung menggaret tanah sekitar Padepokan Kasunanan Bejagung yang sampai sekarang dikenal dengan Siti  Garet.
Mitos lain yang terkait dengan  karomah Sunan Bejagung lor (utara) adalah pantangan warga Bejagung memakan ikan  meladang (jenis ikan laut). Mitos  ini terkait dengan pengalaman Sunang Bejagung yang terapung di laut dan ditolong ikan tersebut.

Awalnya, tidak ada istilah Sunan  Bejagung Lor (utara) dan Sunan Bejagung Kidul (selatan) karena Sunan Bejagung memang hanya  satu yaitu Maulana Abdullah Asya’ari Sunan Bejagung. Kisah ini berawal  dari datangnya seorang santri yang dikirim oleh Syeh Jumadil Kubro. Namanya, Pangeran Kusumohadi yang tidak lain putra Prabu Brawijaya IV atau Prabu Hayam Wuruk dari salah seorang selirnya.
Karena  alim, sholeh, dan ketauhidannya sangat tinggi, akhirnya Kusumohadi  diambil menantu Sunan Bejagung. Melihat kemampuan menantunya  dalam mengajarkan agama, Hasyim Alamuddin dipasrahi siar di wilayah  Bejagung Kidul. Sementara Syekh Maulana Abdullah Asy’ari berpindah atau  uzlah ke Bejagung bagian utara (Bejagung Lor).

Di kawasan ini juga terdapat kompleks pemakaman Citro Sunan yang letaknya hanya dibatasi jalan raya jurusan Tuban – Bojonegoro. Terletak di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding Tuban. Berjarak sekitar satu kilometer ke selatan dari kota Tuban, atau satu jalur dengan obyek wisata pemandian Bektiharjo.

Diantara Mitos dan Kelestarian Lingkungan Goa Ngerong

Di antara goa yang ada di Tuban, Goa Ngerong merupakan salah satu goa yang masih  diliputi misteri berbagai mitos yang dikeramatkan oleh masyarakat sekitarnya.

Goa Ngerong berada persis di kaki bukit pegunungan kapur di Desa Rengel, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban. Selimut misteri di sekelilingnya membuat banyak orang ingin datang dan datang lagi untuk berpetualang menyusuri lorong-lorongnya yang panjang dan gelap dengan jutaan kelelawar bergelantungan di dindingnya membentuk stalaktit hitam.

Pesona alam pertama goa ngerong yang bisa dilihat pengunjung adalah sungai di mulut goa. Jutaan ikan dan kura-kura berkeliaran di air sebening kaca, seolah-olah ikan-ikan itu berada di dalam akuarium raksasa.

Ikan-ikan Goa Ngerong

Walau mengapung di atas air, sejenis ikan nila ini sulit ditangkap. Sebagian warga mempercayai ikan-ikan itu piaraan Putri Ngerong, sehingga tak seorang pun yang berani menangkapnya. Dengan umpan klentheng (biji kapuk/randu) yang dijual oleh warga di kompleks goa, pengunjung bisa membuat ikan-ikan itu berlompatan. Juga didapati Ikan Bader Bang (Puntius Javanicus), ikan yang dimitoskan sebagai keramat.

Karena airnya yang jernih, sebagain warga di sekitar Goa Ngerong juga memanfaatkannya sebagai tempat mandi dan mencuci. Menurut warga Ngerong, jika ada orang yang berani mengambil ikan yang hidup di sungai ini, dia bisa sakit atau malah meninggal dunia. Mitos lainnya barang siapa masuk gua maka dia harus keluar 12 jam berikutnya.

Kedua mitos ini membantu gua dan hewan-hewanya tetap lestari sampai saat ini. Hewan lainnya adalah kura-kura putih dengan diamater kurang lebih 1 meter. Juga ikan tanpa mata (buta) khas hewan gua, yang mulai didapati di kedalaman 1000 meter.

Lokasi tepatnya berada di Kecamatan Rengel, yakni berada di jalur Bojonegoro-Tuban. Transportasi umum bus dan angkutan kota banyak yang melewati Goa Ngerong.

Berwisata ke Goa Ngerong akan mendapatkan sensasi tersendiri saat memberi makan ribuan ikan keramat, dan melihat ribuan ekor kalelawar yang menggantung di dalam Goa.

Jika anda membutuhkan  informasi mengenai lokasi-lokasi wisata di daerah Tuban dan sekitarnya. Anda dapat menghubungi hotel mustika yang menyediakan informasi lengkap tentang lokasi wisata daerah Tuban dan sekitarnya. Dan jika anda memerlukan jasa travel staff hotel mustika juga dapat membantu untuk mengakomodasikan keperluan anda.

Goa Putri Asih Tuban

Goa Putri Asih ditemukan pada tangal 6 September 2002 oleh seorang penambang batu  bernama Jiyadi.  Goa Putri Asih terletak di tengah hutan jati yang masih alami, di desa Mulyoagung – Montong sekitar 30 km dari pusat kota Tuban. Untuk sampai kesana para pengunjung akan melewati alam berbatu sejauh 2,5 km dengan pemandangan yang menawan.

Awal mula di ketemukannya goa ini berawal dari pak Jiyadi (si penambang) yang menemukan lubang ukuran 30cm. Semula beliau tak mengira bahwa lubang itu adalah sebuah goa. Dengan penasaran beliau memasukkan sebatang kayu sepanjang 1 M pada lubang ternyata kayu tersebut jatuh. Akhirnya beliau dan beberapa temannya mencoba memperbesar lubang dan mengambil kayu yang lebih panjang dan mereka pun masuk ke dalam Lubang yang telah diperbesar tersebut. Alhasil tampak pemandangan yang sangat menjubkan terlihat stalagmit dan stalagtit yang masih belum terjamah oleh manusia.

Stalagtit Goa Putri Asih
Begitu masuk kita akan disuguhi banyak stalagtit dan stalagmit yang masih hidup (masih bisa tumbuh memanjang). Ada sebuah stalagmit besar berwarna agak kebiruan menyerupai selendang putri. Oleh karenanya goa ini dinamakan goa putri asih. Ditempat lain ada batuan stalagtit berbentuk seperti siput, benar-benar sangat alami sekali.

Lokasi goa yang jauh dari akses jalan raya menjadikannya tempat yang sangat menarik sebagai wisata petualangan. Tentu bagi wisatawan domestik yang tidak memiliki jiwa petualangan akan merasa sedikit  sulit. Karena goa ini memang belum mengalami perombakan sama sekali. Bahkan seluruh lantainya masih berupa tanah liat. Sehingga bagi mereka yang tidak memiliki jiwa petualang akan merasa kesulitan menelusuri lorong-lorong goa.

Aneka Bentuk Stalagmit Goa Putri Asih

Obyek wisata goa ini sebenarnya menawarkan sesuatu  yang lebih menarik dan indah untuk  dinikamati dibanding dengan tempat wisata goa lainnya, Ornamen-ornamen goa ini masih orisinil dengan stalagtit dan stalagmit beraneka warna dan bentuk. Luas goa sekitar 4 hektar, dengan panjang lorong 250 meter.

Untuk mengujungi Gua Putri Asih, pengunjung cukup merogoh kocek sebesar Rp 3000,-. Bila anda berkunjung ke kota Tuban jangan sampai lupa untuk menginjakan kaki di goa ini.
Jika anda membutuhkan informasi, hotel mustika Tuban menyediakan berbagai informasi lokasi-lokasi wisata daerah tuban dan sekitarnya. Dan jika anda membutuhkan jasa travel hotel mustika telah bekerja sama dengan beberapa jasa travel. Sehingga staff hotel mustika bisa membantu anda untuk mengakomodasikannya.

Legenda Goa Akbar

Tidak seperti layaknya goa alam lain yang berlokasi di tempat terpencil, Goa Akbar yang merupakan salah satu objek wisata andalan Kabupaten Tuban berada tepat di bawah pasar rakyat. Keunikan goa dan muatan sejarah yang terkandung di dalamnya, menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke tempat wisata ini. Di goa dengan lintasan sepanjang 1,2 kilometer itu, pengunjung akan mendapatkan suasana yang sangat berbeda.
Mushola Goa Akbar

Pada sisi lain dari dalam gua terdapat sebuah ruangan yang bisa digunakan oleh pengunjung yang beragam islam untuk melakukan ibadah sholat. Bagian ini memiliki lantai dasar gua yang telah dilapis keramik warna putih dan hitam sebagai penanda barisan sholat.

Beberapa tempat di Gua Akbar dipercaya sebagai tempat Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang pernah bertapa. Seperti ceruk yang diberi nama Pasepen Koro Sinandhi, yaitu tempat pintu yang dirahasiakan.  Diceritakan, konon Sunan Bonang mengetahui goa ini karena diajak Sunan Kalijogo yang saat itu masih bernama RM Sahid. Sehingga beberapa tempat di Goa Akbar akhirnya dipercaya sebagai tempat perjalanan religius Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang, di samping wali-wali yang lain.

Legenda yang terkandung dalam goa itu pun berpadu dengan kepercayaan dan perkiraan sejarah. Seperti tempat yang terdapat di depan musholla dalam goa dimana terdapat ruang yang sangat luas. Tempat ini dikenal sebagai Paseban Wali yang dipercaya dulunya digunakan oleh para walisongo untuk berkumpul dan menyampaikan fatwa dan ajaran agama Islam.  Ditambah dengan adanya batu-batu besar yang terletak di bagian depan ruang, seakan menjadi podium bagi pembicara.
Ada pula batu yang disebut Gamping Watu Nogo yang dipercaya sebagai tempat pertapaan Sunan Kalijogo. Di bawah batu yang menjorok ke depan itu terdapat kolam.
Menurut cerita, selain tapak Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang, ada Sunan Bejagung yang juga pernah bertapa di goa ini. Goa ini juga memiliki sumber air alami.

Melihat struktur tanah di kawasan ini banyak mengandung kapur, tidak heran jika goa ini memiliki stalagtit dan stalagmit yang berbeda. Lorong-lorong di Goa Akbar ini juga menyisakan kisah yang perlu dieksplorasi untuk memperoleh keunikannya.

Menurut cerita, lorong itulah yang digunakan untuk mengejar musuh kerajaan yang lari ke laut. Sementara lorong lainnya berujung pada Goa Ngerong di Kecamatan Rengel.
Berdasar buku 700 Tahun Tuban yang disusun R Soeparmo, tempat ini merupakan salah satu tempat asal usul Tuban. Perkiraan ini didasarkan pada temuan fosil binatang laut seperti kerang di batu-batu dan dinding goa. Temuan itu kian menguatkan posisi Goa Akbar sebagai goa fosil. Hingga kini, fosil-fosil di batu tersebut dapat disaksikan dengan jelas.

Sepanjang jalan dalam goa disediakan jalur dari paving block yang dibatasi oleh pagar steinless. Berbagai cerita yang terkandung di dalamnya, menjadikan tempat ini sangat penting.
Konon goa ini juga pernah dijadikan tempat persembunyian untuk mengatur strategi dan latihan ilmu kanuragan prajurit Ronggolawe, yang ketika itu berencana mengadakan pemberontakan ke Kerajaan Majapahit.

 
Design by Gonjol Theme | Bloggerized by Gonjol Tuban Templates | coupon codes