;
DR Coffee
Tampilkan postingan dengan label Wisata Religi Kota Tuban JATIM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Religi Kota Tuban JATIM. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Agustus 2011

Masjid Agung Tuban

Masjid yang berlokasi di kelurahan Kutarejo, kecamatan Tuban ini didrikan pada masa pemerintahan Adipati Raden Ario Tedjo (Syeh Abdurrahman), Bupati Tuban ke-7, dimana saat itu ialah awal permulaan pemerintahan Islam, beliau wafat pada tahun 1460 (abad ke-15). Namun secara pasti pendiri masjid ini tidak tercatat. Masjid agung tuban dahulu bernama masjid jami.

Masjid Agung dibangun untuk ke dua kali (direnovasi pertama)  pada tahun 1894 M pada masa pemerintahan Bupati Raden Tumenggung Kusumodigdo (Bupati Tuban ke 35).  Bangunan Masjid yang besar dan megah berdiri kokoh di sebelah barat alun-alun kota tuban menjadi kebanggaan masyarakat Tuban

Masjid yang letaknya berdekatan dengan makam sunan bonang ini memiliki keindahan wisata religi dengan gaya ala dongeng 1001 malam. Tak kalah dengan masjid-masjid terkenal di penjuru nusantara yang membuat kagum para wisatawan yang berkunjung di kota tuban. Dengan ornamen yang begitu indah, polesan yang begitu detail, tembok yang penuh ukiran membuat masjid ini menjadi salah satu masjid termegah di Jawa timur.

Masjid Agung Tuban  merupakan salah satu peniggalan sejarah kota tuban,banyak ajaran- ajaran islam yang disebarkan oleh sunan bonang  dilakukan di masjid ini. Masjid Astana itulah nama bangunan masjid kecil yang didirikan Sunan Bonang kala itu. Masjid ini kemudian berkembang menjadi tempat ibadah sekaligus tempat dilangsungkannya kegiatan belajar dan mengajar mengenai Islam. Dalam perkembangan selanjutnya, bangunan masjid ini diperluas menjadi bangunan masjid yang dikenal sebagai Masjid Agung Tuban saat ini. Masjid Agung Tuban, yang dahulu bernama Masjid Jami, sempat mengalami beberapa kali renovasi.

Renovasi selanjutnya dilakukan tahun 1985, di mana bangunan masjid mengalami perluasan. direnovasi Masjid ini selesai pada tahun 2000 dan semakin dapat membuat kagum para wisatawan yang berkunjung di kota Tuban. Kemudian, di tahun 2004 dilakukan kembali renovasi terhadap bangunan Masjid Agung Tuban oleh pemerintah Kabupaten Tuban. Renovasi yang dilakukan kali ini meliputi pengembangan satu lantai menjadi tiga lantai, menambah sayap kiri dan kanannya dengan mengadopsi arsitektur bangunan berbagai masjid terkenal di dunia serta penambahan enam menara masjid dengan luas 3.565 meter persegi.

Apabila anda sedang berkunjung di kabupaten tuban sangatlah tidak lengkap apabila belum mengunjungi masjid yang satu ini. Apabila anda sedang melakukan perjalanan dinas dan kebetulan menginap di hotel mustika Tuban, anda cukup menempuh jarak sekitar 1,5 km  dari hotel mustika ke Masjid Agung Tuban.

Makam Sunan Bonang

Makam Sunan Bonang adalah salah satu ikon wisata religi kota Tuban. Makam yang terdapat di belakang masjid Agung sebelah barat alun-alun kota Tuban merupakan salah satu dari empat versi makam Sunan Bonang lainnya. Dari keempat versi lokasi memakaman Sunan Bonang yang banyak beredar di masyarakat. 

Makam yang terdapat di kelurahan Kutorejo Tuban adalah yang paling banyak di kunjungi peziarah, baik yang berasal dari dalam negeri atau turis asing.

Sunan Bonang atau Maulana Makdum Ibrahim nama yang diberikan oleh Sunan Ampel ayahnya. Beliau diduga lahir di daerah Bonang, Tuban, pada tahun 1465 M. Semasa kecil, Sunan Bonang mendapat pelajaran dari ayahnya, Sunan Ampel, dengan disiplin yang ketat.

Tahun meninggalnya sunan bonang sendiri belum diketahui secara pasti, namun ada dugaan kira-kira pada tahun 1525 M. Sampai saat ini ada empat lokasi yang oleh masyarakat diyakini sebagai makam Sunan Bonang. Selain yang di Tuban tempat lain yang juga dianggap sebagai tempat persemayaman Sunan Bonang, yaitu pulau Bawean di  Kabupaten Gresik, Desa Singkal di Kabupaten Kediri, dan di Desa Bonang, Lasem, Kabupaten Rembang Jawa Tengah.

Sebagaimana makam Walisongo lainnya, di komplek makam Sunan Bonang Juga pengunjung dilarang mengambil gambar. Seorang juru kunci akan setia mendampingi rombongan yang masuk ke dalam cungkup dan akan memperingatkan pengunjung yang mencoba mengambil gambar makam Sunan Bonang.

Hampir setiap hari, terutama pada hari-hari libur, makam Sunan Bonang selalu dipadati oleh ratusan bahkan ribuan peziarah. Bagi peziarah atau pengunjung yang membawa kendaraan sendiri (rombongan) telah disediakan terminal khusus untuk parkir kendaraan tersebut sehingga tidak menimbulkan kemacetan dan mengganggu lalu lintas jalan. Letak terminal ini kurang lebih 1 km dari lokasi makam atau 200 meter dari lokasi wisata Goa Akbar.

Selama mengunjungi makam Sunan Bonang peziarah juga dapat menyaksikan jejak penyebaran agama Islam khususnya yang dilakukan oleh Sunan Bonang. Beliau menyebarkan agama Islam di daerah Tuban dan sekitarnya. Dalam menyebarkan agama Islam pada Masyarakat (berdakwah) Sunan Bonang menempuh cara persuasif.

Menurut cerita sejarah, Sunan Bonang sering menggunakan media bonang (gamelan) salah satu jenis alat musik khas Jawa. Pada masa itu, jenis kesenian semacam wayang kulit dan tayub sangatlah digemari masyarakat. Melalui kesenian itulah, Sunan Bonang sedikit demi sedikit memasukkan nilai-nilai Islam sambil perlahan-lahan menghilangkan hal-hal yang menyimpang dari kesenian-kesenian tersebut.

Dengan pendekatan budaya lokal inilah sehingga menarik masyarakat sekitar untuk mengikuti ajakannya. Salah satunya dengan menciptakan tembang yang sampai saat ini masih banyak di lagukan oleh beberapa pelantun lagu-lagu religi adalah tembang Tamba Ati (penyembuh jiwa/hati) yang sampai kini masih populer.
Peninggalan Sunan Bonang di area makam tersebut salah satunya adalah sebuah masjid tua yang dinamakan masjid Astana dan dibangun oleh Sunan Bonang sendiri. Masjid ini, dulunya dipakai sebagai pusat dakwah oleh Beliau. Di depan masjid Astana, anda juga dapat menemukan peninggalan yang lain berupa tempat wudhu dari batu yang masih terawat sangat baik hingga saat ini.

Di komplek pekuburan Sunan Bonang ini, peziarah dapat memanfaatkan fasilitas yang ada, misalnya menggunakan masjid dan berandanya untuk melakukan shalat dan beristirahat, memanfaatkan tempat wudu dan kamar mandi untuk membersihkan diri, serta membeli suvenir yang dijajakan oleh kios-kios di sepanjang jalan menuju makam.

Ada satu hal unik terdapat di makam Sunan Bonang dan bisa dianggap sebagai kenang-kenangan dari beliau yakni sebuah Tasbih Biji Pisang. Tasbih ini berwarna hitam, dan merupakan untaian biji pisang. Menurut cerita biji Pisang tersebut asli telah terbentuk sedemikian dari buah pisang. Jadi, buah pisang tersebut saat dikupas, hanya berisi biji-biji tasbih tersebut dan tidak berdaging.

Makam Sunan Bonang terbuka bagi peziarah sejak pukul 08.00 WIB  hingga tengah malam. Dan jika anda telah sampai ke Sunan Bonang rugi rasanya jika anda tidak melengkapi kunjungan wisata anda. Karena tidak jauh dari lokasi Makam Sunan Bonang terdapat objek-objek wisata alam yang sangat menawan. Anda dapat menambah daftar tujuan wisata misalnya Goa Akbar yang terletak tepat di bawah Pasar Baru sekitar 200 meter dari alun-alun kota.

Untuk mendapatkan  informasi mengenai lokasi-lokasi wisata di daerah Tuban dan sekitarnya. anda dapat menghubungi hotel mustika yang menyediakan informasi lengkap tentang lokasi wisata daerah Tuban dan sekitarnya. Dan jika anda memerlukan jasa travel staff hotel mustika juga dapat membantu untuk mengakomodasikan keperluan anda.

 
Design by Gonjol Theme | Bloggerized by Gonjol Tuban Templates | coupon codes